Patin Yang Ikut Menangis di Perutku
Melalui tempat inilah, dia mengais asa. Semua bahan dan alat dipersiapkan demi menyambung suatu hal yang disebut dengan hidup. Resep turun temurun dia jaga keasliannya agar tak ada satupun yang bisa menyaingi rumah makan tradisional ini. Pengunjung ramai setiap hari. Lokasi yang strategis menjadi alasan utama banyaknya penggemar setia rumah makan yang memiliki menu utama yang khas ini. Letaknya berada di Pasar 16 Ilir Palembang. Makanan khas yang ada di sini terbuat dari ikan yang kemudian diolah dengan bumbu-bumbu rahasia dalam sebuah belanga. Ikannya tak bersisik. Bumbunya ditakar sedemikian rupa agar menghasilkan rasa yang khas. Banyak rumah makan serupa yang menjual masakan ini, tetapi di sinilah yang dianggap paling enak dan paling asli. Bagaimana tidak, pemiliknya adalah keturunan keempat yang paham betul cara mengolah masakan ini.
Oh, iya. Nama rumah makan ini sama seperti pemiliknya, Rumah Makan Pindang Meranjat Bik Sari. Ya, nama yang sangat panjang, tak seperti restoran dari luar negeri yang pendek-pendek. Nama pemiliknya pun sangat pasaran, tetapi masakannya tentu tidaklah demikian. Pindang patinnya sangat enak, setidaknya begitu impresi pertamaku saat datang ke sini. Walau ada banyak pegawai, tetapi tak ada satupun yang tahu takaran bumbunya. Yang boleh tahu hanyalah anak Bik Sari. Pegawai lain hanya boleh memasak makanan lain saja yang bukan menjadi menu utama. Keluarga Bik Sari tampak tahu betul cara agar ikan patin bisa berkolaborasi dengan rempah-rempah khas daerah ini. Konon kabarnya, resep ini diracik saat tentara Belanda menjadikan nenek ayah Bik Sari sebagai pembantu rumah tangga dulu. Tentara itu sangat terkesima dan menyukai hidangan ini.
Kini, aku kembali lagi untuk kelima kalinya. Tak ada perubahan sejak kunjungan terakhirku beberapa bulan lalu. Ada yang berbeda, tumben sekali tak seramai biasanya. Aku baru saja membeli pakaian baru untuk lebaran haji. Kusengaja mampir ke sini untuk mengobati rinduku. Namun, rinduku ini bukanlah pada masakannya. Rinduku ini tertuju pada Bik Sari. Janda beranak dua yang pandai memasak. Aku tertarik padanya sejak kunjunganku kedua. Walau janda, perawakannya masih tampak segar dan memanjakan mata. Kain panjang dan lebar menutupi tubuhnya, tetapi tak bisa menutupi perilakunya yang amat santun sebagai atasan dan terkadang merangkap pelayan. Oleh karena itulah aku tertarik. Usiaku dan dirinya sepertinya tak jauh berbeda. Dia punya anak dua, laki-laki dan perempuan. Yang lelaki sering membantu di sini dan satunya masih bersekolah. Terkadang, aku ingin berbincang dengannya, tetapi dia sangat sibuk. Oleh karena itu, sering kali aku hanya menitip salam pada anaknya. Melalui anaknya inilah, aku tahu informasi dasar tentang ibunya. Di kunjungan kelimaku ini, aku mencari cara agar bisa berbincang dengan Bik Sari atau mungkin aku harus memanggilnya dengan sebutan yang lebih romantis. Nona Sari, misalnya. Ya, aku tahu dia janda, tetapi di mataku dia masih amat muda.
Di hadapanku telah hadir masakan khas tadi. Pelayan yang mengantarkannya adalah anak Nona Sari. Tanpa ragu, aku bertanya saat dia menghampiri mejaku.
"Di mano Sari?"
"Pagi tadi ado. Sekarang, lagi di luar."
Mendengar itu, aku cukup terkejut. Tumben-tumbennya Sari tak memantau tempat usahanya. Biasanya, Sari selalu ada dari buka sampai tutup agar kualitas pelayanan rumah makan ini terjaga. Entahlah, batinku tak mau berpikir terlalu jauh. Mungkin, Sari telah percaya pada anaknya untuk memantau pekerjaan pegawai mereka. Toh, bisa saja memang ada urusan yang tak bisa ditinggalkan.
Aku berusaha membuang terlebih dahulu pikiran tentang Sari dan apa yang dia lakukan. Kini, aku tergoda untuk segera mencicipi pindang patin ini. Ini pasti sudah dimasak oleh Sari dari pagi. Pegawainya tinggal menghangatkannya saja. Bagian kepala patin adalah kesukaanku. Dagingnya memang sedikit, tetapi rongga kepalanya amat menyegarkan. Apalagi dicampur nasi berkuah pindang. Lagi-lagi, aduhai, tambah enak rasanya masakan Nona Sari ini.
Nasi sudah habis, pindang masih bersisa, terutama kuahnya. Dari arah depan, tampak janda pemilik rumah makan ini. Siapa lagi kalau bukan Nona Sari. Dia datang dengan wajah berseri. Tampaknya, urusan di luar sudah selesai dan dia siap memantau kerja pegawainya lagi. Tak sengaja dia mengenaliku.
"Nah, ado kau di sini. Lamo dak betemu langganan ini. Lah lamo, Cek?
"Lamo jugo. Dari mano kau, Cek?"
"Adolah urusan."
"Urusan apo nian?"
Sari menjawab dengan lantang dan penuh keceriaan. Sebuah jawaban yang tak kusangka. Namun, aku harus rela.
Sari akan menikah lagi.
Jelas, membuat hatiku seketika hancur. Rasa senang bertemu dia, berubah tiba-tiba. Sepertinya, kepala patin di perutku pun ikut bersedih. Aduhai. Padahal baru saja aku mau melamar dia sesudah lebaran haji. Seperangkat alat salat telah kubeli untuk kusiapkan sebagai mas kawin, kalau memang jadi. Namun, takdir berkata lain.
Ada rasa enggan lagi untuk kembali ke sini. Sepertinya, aku harus mencari langganan pindang patin yang lain, walau rasanya tak seenak buatan Sari. Aku rela menelan racun, demi menjauhi madu yang bukan milikku. Walaupun sebenarnya, aku suka memadu.
Komentar
Posting Komentar